Bagaimana Mengajarkan Anak Agar Cerdas Emosi



Wednesday, 05 November 2008
 
Kita sering melihat di Mal atau di tempat-tempat umum lainnya seorang ibu kewalahan berusaha mendiamkan anaknya, usia sekitar 2 th yang menangis sambil berteriak, karena dia sedang pilek  tidak dibelikan es Krim yang dimintanya. Selang berapa menit karena tidak mau diam juga, es krim itu akhirnya dibelikan oleh ibu muda tsb. Anak itu berhenti menangis dan menikmati es krimnya, tanpa merasa bersalah sama sekali, padahal dia sebelumnya sempat mencuri perhatian orang-orang yang sedang berlalu lalang . Ah ,namanya juga anak-anak. Semakin besar berusia 3 tahun, kalau dia ngambek  tidak dituruti permintaanya dia mulai membuang atau melemparkan mainannya, sampai hasratnya terpuaskan. Menjelang umur 5 tahun, anak itu mulai suka memukul ,mencakar wajah atau menarik rambut pembantu di rumah dan juga ibunya, walau telah berkali-kali dilarang..Pembantu tidak ada yang betah, gonta-ganti pembantu akhirnya dan anak itu tidak pernah bermain lagi di luar rumah, karena tidak ada satupun anak yang mau menemaninya bermain.

Di ruang kerja saya duduklah di hadapan saya ibu anak tsb yang membutuhkan konsultasi, dan bertanya dengan rasa khawatir: ‚Dok (sy sebenarnya bukan dokter, tapi Doktor dalam Bidang Pendidikan dan Pengajaran Anak)..lanjut ibu tsb:‘Apakah prilaku anak saya itu masih termasuk wajar untuk perkembangan anak seusianya??‘ Apakah yang harus saya perbuat, agar anak saya bisa mengendalikan emosinya dengan baiK? Bila dilarang berkali-kali tetap saja dia memukul atau menjambak, apakah boleh saya balas dengan memukul pula atau mencubitnya??. Ya , jangan dibalas pukulan atau cubitan dong, anak itu kan masih usia 5 tahun, yang salah didik ibunya , kok anaknya hasil didikannya sendiri yang mendapat hukuman????......Ini saya bilang hanya dalam hati saya.


Dengan serius saya tatap wajah ibu muda itu dan berusaha memberi saran yang bijaksana: ‚Ibu pasti banggakan mempunyai putri secantik anak ibu dan dia rajin ke sekolah lagi. Saya bisa memahami kekhawatiran ibu saat ini dan usia anak ibu adalah usia yang paling tepat untuk membentuk  prilakunya menjadi lebih baik dan lebih cerdas emosi‘. Ibu muda itu mulai terlihat agak rileks dan duduknya juga sudah mulai santai. Barulah saya  memberikan  ibu itu pengertian, bahwa menghadapi prilaku seperti anaknya tsb memang membutuhkan kesabaran yang tinggi. Jadi sebagai Orangtua kita tidak boleh tergesa-gesa dengan memukul atau mencubit anak itu, karena cara ini bukan saja tidak efektif , melainkan juga malah membuat anak semakin agresif.

Anak ini mempunyai masalah ketidaksesuaian dalam cara mengungkapkan keinginan, emosi atau perasaannya . Biasanya anak menangis, bila sakit, lapar dan sedang tumbuh gigi. Di luar itu, bila anak menangis, pasti dia sedang mencoba senjata ampuhnya untuk mempengaruhi orang di sekitarnya, agar mau meberikan yang dia inginkan. Prilaku seperti ini  bisa dipastikan, karena penerapan ajaran dan aturan yang tidak konsisten, misalnya pada waktu anak tidak diberikan apa yang dia mau karena sesuatu hal, tapi ketika dia mulai berteriak didepan umum atau memukul atau menjambak, keinginan dia dipenuhi dengan segera. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua harus mulai mengajarkan anak kita untuk dapat mengekspresikan keinginannya secara sehat.

Kita bisa memulainya dengan mengajarkan dan membantu anak mengenali berbagai macam emosi seperti kesal, marah, sedih, senang, kecewa dll dengan membuat mimik muka sesuai apa yang sedang kita rasakan. Berikan contoh-contoh situasi, kapan perasaan itu timbul. Kita bisa juga memakai media buku cerita, gambar-gambar atau boneka dalam menggambarkan berbagai emosi tsb. Ajarkan anak untuk berempati kepada temannya, bila dia sedang sakit atau sedang sedih. Kemudian lakukan tanya jawab, apa yang saat ini sedang anak kita rasakan dan mengapa dll?. Kegiatan ini harus kita lakukan dengan penuh kesabaran dan menyediakan cukup waktu.

Yang penting adalah menerapkan peraturan secara konsisten di rumah dan anak harus mendisiplinkan dirinya untuk mematuhi aturan tsb, tetapi sebelumnya kita harus mensosialisasikannya terlebih dahulu. Kita harus melakukan kesepakatan dan menyampaikan secara jelas dan tegas kepada anak kita hal apa saja yang boleh dia lakukan dan yang tidak boleh dilakukannya. Bila hal itu dilanggar, maka akan ada sanksinya. Misalnya bila anak tidak mematuhi kesepakatan tsb, hukumannya adalah tidak boleh 
melakukan hal yang paling disukainya atau akan diambil mainan yang sering dimainkannya atau tidak dibelikan hadiah yang sudah dijanjikan sebelumnya  atau tidak boleh tidur dikamar ibu lagi dsbnya. Hal seperti sudah cukup memberi hukuman yang sepadan bagi anak yang melanggar aturan dan lebih efektif daripada hukuman fisik. Dan ini benar-benar kita terapkan kepada anak kita secara konsisten. Dengan cara ini anak akan belajar segala konsekwensinya bila melanggar perjanjian dan berani mempertanggung-jawabkannya. Setelah anak dikenalkan dengan disipiln dan menjalankan aturan yang telah disepakati bersama tsb, barulah kita mengajarkan anak kita untuk menyalurkan emosinya secara sehat.Dengan demikinan anak akan disukai oleh lingkngannya dan tidak dikucilkan lagi.



Bila dia merasa tidak puas atau tidak nyaman atas perlakuan seseorang, dia harus bisa menyampaikannya secara santun dan tidak dengan berteriak, apalagi memukul. Kita ajarkan dia membuat kalimat yang baik untuk mengungkapkan perasaannya itu dan hal ini juga meningkatkan kecerdasan linguistik anak. Ketika anak itu berhasil mengaplikasikan ajaran kita itu, jangan segan-segan memujinya di depan umum atau memberikan hadiah kecil untuk setiap tindakannya yang baik. Hal ini juga kita sampaikan kepada pembantu dan orang di sekelilingnya, agar mengajarkan hal yang sama dan menghadiahkan pujian  bila anak kita berkelakuan baik. Dengan demikian dan melalui pembiasaan, mudah-mudahan anak kita bisa mengungkapkan emosinya dengan baik dalam kalimat yang santun apakah pada saat dia sedang sedih, senang, marah dan kesal sekalipun. Nah bila anak kita sudah mencapai tahap ini, kita bisa dengan bangga bilang, anak kita sudah cerdas emosi. Karena kita bisa pastikan, bahwa anak kita mampu mengekspresikan emosinya dengan tepat dan baik dimanapun dia berada dan  kita tidak perlu mengkawatirkannya lagi. Karena anak yang cerdas emosi  akan disenangi  orang di sekitarnya. Nah, selamat mencoba!

(Dr.D.Pane, Oktober 2008/TK Pestalozzi, Cibubur)


Mudik Lebaran 1439H 2018