Cerita Orangtua Tunggal yang Sukses

Kota khatulistiwa, di Senin pagi ini diguyur hujan, membuatku teringat salah seorang teman terbaik yang sempat saya kunjungi di hari Minggu kemarin.
Seorang ibu dengan dua orang putra tinggal dirumah tipe “RSS” (rumah sangat sederhana, salah satu program perumahan Orde Baru) sejak 23 th lalu dan baru selesai kreditnya. Rumah itu hampir tidak pernah direhab, sehingga mudah dicari dalam kompleks yang cukup besar. Cari saja rumah yang paling sederhana, paling kecil tanpa pagar pasti dapat diketemukan.
Tapi apakah isi juga kerdil seperti rumahnya?
Jawabannya, tidak!
Ibu, yang menempati rumah tersebut sejak diabaikan orang suaminya (20th lalu), tidak pernah meratapi nasibnya, tidak pernah neko-neko, tidak penah dendam, tidak pernah tawakal.
Alhasil dari semua pengorbanannya, sang anak sulung telah lulus S1 dengan IP sangat memuaskan. Bekerja di bank swasta dengan gaji lumayan dan sudah membuat perencanaan untuk merehab rumah kecil penuh kenangan kasih seorang ibu itu, “Ibu, 50% gaji saya ibu tabung untuk rehab rumah, jadi dihari tua ibu tidak pusing lagi dengan rumah.” Demikian perkataan si anak kepada ibunya.
Hari minggu kemarin ibu tersebut berkata “Mendengar kata-kata anakku seperti itu, terasa semua perjuangan dan kepahitan hidupku telah terbayarkan, walau rumah belum direhab”.
Saya berharap perjuangan ibu ini, akan saya tulis disini sebagai bahan sharing untuk ibu-ibu yang senasib dengan ibu tersebut, karena saya kenal benar dan berdampingan dekat dengan ibu tersebut. Karena kebersamaan (bekerja di satu ruangan yang sama selama belasan tahun) kami dalam waktu yang panjang. Bagaimana seorang ibu yang sedang hamil anak kedua dikhianati suami, ia terus berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya karena tidak rela anaknya disebut anak yatim.
Dengan gaji hanya seorang staff, ia harus memenuhi biaya hidup sehari-hari seperti membayar sekolah anak sulung dan menggunjungi dokter kandungan dengan rutin, karena dengan sadar dan sabar menjaga kandungan agar anak kedua yang tak berdosa bisa dilahirkan dengan sehat. Selain itu ia tetap membayar cicilan rumah.
Saya sungguh salut pada kemampuan Ny NN dalam mengatur hidupnya, membuat saya merasa tidak berhak untuk mengeluh, karena kami berdua memiliki latar belakang kehidupan yang hampir mirip. Pendidikan kami sama, tapi rejeki masih sedikit berpihak pada saya, karena secara jabatan saya lebih tinggi. Saya dan suami bahu-membahu berbagi untuk semua hal.
Ketika anak kedua lahir, tidak ada pilihan untuk berdiam di rumah mengasuh buah hati yang baru saja lahir. Ia tetap harus bekerja, sedangkan anaknya dititipkan di penitipan. Keadaan ini tidak membuat Ny. NN tidak masuk kerja, apalagi tidak terlambat masuk kerja. Pulang kantor dilakoninya dengan tabah, walaupun ia harus bedesak-desakan di angkutan umum. Kadang terpaksa harus membawa pakaian ganti, supaya seragam kantor biasa dipakai 2 hari. Tidak pernah ngeluh dalam menghadapi pekerjaan dan deadline laporan. Hanya 1 hal yang tidak bisa dilakukan oleh Ny. NN yaitu tidak bisa lembur hari Minggu.
Sebagai ibu, ia memenuhi hampir semua kebutuhan anak-anaknya, siapkan sarapan dan bekal makan siang. Pakaian anaknya selalu rapi dan yang lebih salut lagi anak-anaknya tidak pernah meninggalkan sholat.
Yang bersangkutan hampir tidak mendapatkan dukungan dari manapun, kecuali sepasang orangtuanya sendiri yang mengasihinya dan membiarkan ysb mengambil keputusan atas kondisi rumah tangganya. Walaupun sebenarnya, baik kami teman dekatnya atau orangtuanya, sangat mendukung dia mengugat cerai suaminya. Dengan harapan dia lebih leluasa dan lebih bebas, karena NN sudah tidak mendapat nafkah lahir batin. Tapi, NN lebih memilih tidak bercerai dan tidak ada orang yang benar-benar tahu alasannya..
NN selalu bilang, “Jalani aja hidup dengan tawakal, apapun bisa kita lalui. Hidupku, untuk anak-anakku, agar mereka tetap mendapat kasih sayang walau hanya dari seorang ibu,”
Saya pikir kisah hidup Ny. NN sangat layak untuk inspirasi kita semua karena NN bisa mengikhlaskan penderitaan dirinya dan tetap memberi kasih sayang kepada kedua buah hatinya, sementara suami wara-wiri sama istri muda.
Kami pernah mendengar percakapan NN dengan seorang ibu yang senasib,”Adalah lebih mudah menjelaskan kepada anak-anak kalau kita ini Janda yang di tinggal mati suami”. Bagi yang berkeluarga saya kira bisa merasakan apa makna percakapan yang dilontarkan NN diatas.
Sekian dulu,
Salam kasih buat semua
Ibu Febry

Mudik Lebaran 1439H 2018