Renungan Tentang Anak Jenius William James Sidis - Komunitas Ayah Edy

Renungan akhir pekan - Komunitas Ayah Edi
Ada artikel bagus dari komunitas ayah Edy mengenai parenting yang bagus banget untuk di baca, aku mau berbagi mudah2an bermanfaat. :)


RENUNGAN AKHIR PEKAN


Jika kami sedang berseminar pendidikan, yg umumnya di hadiri 300-600 peserta orang tua dan guru, maka jika kami tanya MANA YG LEBIH PENTING AKHLAK ATAU PINTAR.... hampir seluruh ruangan kompak menjawab.... AKHLAK... MORAL....!!!!!

Wah senang sekali sy mendengar teriakan yg hampir kompak ini. Tapi masalahnya ini hanya TERIAKAN DI RUANG SEMINAR atau memang datang dari Pikiran yg sudah "tersadarkan" atau "tercerahkan"....? Namun sedihnya fakta di lapangan...., tetap saja setelah kembali dari seminar... Para guru dan orang tua sama... kembali ribut dan gusar akan hail ujian murid2nya, nilai..nilai raportnya. Begitu pula orang tua.... sibuk menekan anaknya untuk belajar dan mengerjakan setumpuk PR (yg sebenarnya hanya menghapal). Juga sibuk menekan anaknya untuk ikut berbagai BIMBEL dan Kursus agar menjadi anak yg PINTER, JUARA DAN KALAU BISA JENIUS... Padalah jelas-jelas.... Tokoh2 anutan masing2 agama di dunia, mulai Dari Krishna, Kristus, pangeran Sidarta dan Muhammad SAW.... tak satupun yg memusingkan nilai2 pencapaian IQ apa lagi untuk menjadi Jenius.... semuanya mengajarkan kita untuk memiliki akhlak, moral dan karakter yg mulia. Untuk bisa mencapai hidup bahagia dan sukses di dunia dan akhirat.
Mengapa ini tidak di jadikan sebagai point utama mencapai sukses hidup dunia dan akhirat oleh mayoritas orang tua dan pendidik...?

Mari kita simak kisah sejarah berikut ini:
 

James Sidis terlahir dengan nama lengkap William James Sidis pada tanggal 1 april 1898 Di Amerika SerikatJames Sidis merupakan manusia paling jenius yang pernah ada di muka bumi dengan IQ (tingkat Kecerdasan) di atas 250-300. Kejeniusannya mengalahkan Da VinciEinstein,Newton dan ilmuwan lainnya. Nama James Sidis nyaris luput dari hingar bingar pemberitaan tentang para jenius di jagat ilmu pengetahuan.

Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya. Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar. menulis beberapa buku sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada usia 11 tahun Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai murid termuda. Harvardpun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan paraprofessor matematika.

James Sidis lulus cumlaude sebagai sarjana matematika di usia 16. Selanjutnya Ia melanjutkan kuliahnya namun sempat tersendat karena dibully oleh sekelompok mahasiswa yang tidak menyukainya. Di usia 17 Sidis menerima tawaran sebagai asisten dosen sambil melanjutkan ke program doktor namun sayang Ia tidak menyelesaikan studinya dengan alasan merasa frustasi oleh sistem pembelajaran dan perlakuan kakak kelasnya. Saat itu Ia sempat mengeluh, “ Aku tidak tahu kenapa mereka memberiku pekerjaan ini dan menempatkanku sebagai orang spesial, aku sebenarnya tidak layak sebagai dosen. “


Lebih dasyat lagi, Sidis mengerti 200 jenis bahasa di 
dunia dan bisa menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari !!!! Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit.

Di tahun 1919Sidis ditangkap dan ditahan selama 18 bulan karena keterlibatannya dalam demoSocialist May Day di Boston. Saat itu Ia membuat pernyataan menentang wajib militer pada perang Dunia I. Penangkapannya itu sempat menghebohkan media masa sebagaimana saat Ia mengawali kiprahnya sebagai bocah jenius. Sejak keluar dari penjara, Sidis kemudian menghilang bak ditelan bumi dan setelah sekian lama jejaknya terendus oleh seorang reporter yang bertemu dengan seorang pemulung besi tua nan papa, ternyata dialah ‘ William James Sidis. ‘

Siapa yang sangka William Sidis kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun - sebuah saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Ironis. Orang kemudian menilai bahwa kehidupan Sidis tidaklah bahagia. Popularitas dan kehebatannya pada bidang matematika membuatnya tersiksa. Beberapa tahun sebelum ia meninggal, Sidis memang sempat mengatakan kepada pers bahwa ia membenci matematika - sesuatu yang selama ini telah melambungkan namanya.

Dalam kehidupan sosial, Sidis hanya sedikit memiliki teman. Bahkan ia juga sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak juga pernah memiliki seorang pacar ataupun istri. Gelar sarjananya tidak pernah selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya, mengasingkan diri. Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering datang terlambat.

Mengharukan memang usaha Sidis. Ada keinginan kuat untuk lari dari pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendiri. Walau untuk itu Sidis tidak kuasa. Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti bisa mencium. Sidis tidak bisa melepaskan pengaruh sang ayah begitu saja. Sudah terlanjur tertanam sebagai sebuah bom waktu, yang kemudian meledakkan dirinya sendiri.

Referensi :

- http://cyberblogcrew.blogspot.com/2011/06/kisah-tragis-sang-jenius-william-james.html
- http://www.taukahkalian.com/2011/03/william-james-sidis-adalah-manusia.htm

Mudik Lebaran 1439H 2018