Menghafal dengan Metode Hanifida

22

mar2009
Berbagai metode sudah banyak ditemukan, oleh banyak orang, dibanyak tempat, mengenai apa dan bagaimana cara yang paling efektif yang dapat mereka lakukan untuk mengingat / menyimpan sesuatu yang sudah diketahui atau dialaminya ke dalam memori otak. Mulai dari mencoba menyimpan ingatan itu melalui hafalan dengan membaca berulang2, membuatnya jadi lagu, bahkan hingga penyingkatan2 di setiap awal kata.

Tanpa disadari, metode2 tsb lah yang selama ini sudah menemani dan membantuku dalam menyimpan memori ke dalam otak. Cukup efektifkah? Hmm.. pertanyaan itu muncul saat dalam suatu kesempatan, aku mengetahui bahwa ada metode lain, yang bisa jadi sebenarnya lebih efektif digunakan untuk menyimpan memori ke dalam otak dibandingkan dengan metode yang selama ini kugunakan.

Metode baru yang kumaksud adalah metode Hanifida. Kenapa namanya Hanifida? Karena pelopor dari metode ini adalah Pak Hanifuddin Mahadun dan Ibu Ida Hanif Mahmud. Dugaanku, Hanifida adalah singkatan dari Nama beliau berdua *Peace kalo salah.. v(^_^)*.

Karena akan cukup kompleks dan membutuhkan waktu kalau aku harus menjabarkan secara menyeluruh mengenai metode ini dalam blogspot, maka untuk kali ini aku akan mencatat 1 kesimpulan utama saja yang diperoleh dari metode baru ini. Metode Hanifida = Metode mengingat yang dilakukan dengan cara mengasosiasikan sesuatu yang lazim dikenal/dipahami sebelumnya untuk membantu otak dalam mengingat sesuatu yang baru.

Haha, mudah2an ga bingung.. *Terutama buat aku sendiri yang bikin catatan ini.. :p *

Metode ini diklaim lebih efektif dalam membantu orang yang berusaha menyimpan memori / ingatan ke dalam otak karena kemampuannya merangsang 2 bagian otak sekaligus untuk bekerja, yaitu otak bagian kanan dan otak bagian kiri. Berdasarkan penjelasan Pak Hanif yang mengacu pada penelitian sebelumnya, diketahui bahwa kemampuan dari masing-masing bagian otak dalam menyimpan memori itu berbeda. Otak kanan diketahui mampu menyimpan memori selama 1600 x 1500 jam (bahkan lebih), yang tenyata jauh lebih lama daripada otak kiri yang hanya sebesar 6 jam. Itulah kenapa, sangat penting bagi kita untuk memanfaatkan dan mengeksplorasi kinerja otak secara maksimal dan menyeluruh.

Dari beberapa metode Hanifida yang diajarkan, salah satu metode yang saya coba ambil sebagai contoh pada catatan ini adalah metode asosiasi antara angka -> nama benda -> nama yang ingin dihafal.
Contoh:
Jika 1 adalah Bola, maka 1 = Bola; dan 2 adalah Lampu, maka 2 = Lampu.

Maka saat ini, kita bisa mengganti nomor urutan 1 dengan Bola, dan 2 dengan Lampu. Langkah selanjutnya adalah dengan mencoba mengasosiasikan Bola dengan sesuatu yang ingin disimpan dalam memori otak melalui sebuah rangkaian cerita. Misal, saya ingin mencoba menghafal kata "Kick" dalam bahasa inggris yang berada pada nomor urut 1 dalam suatu daftar hafalan, yang berarti "Tendang", maka saya dapat menggabungkan kata Kick atau hiponimnya, dengan kata "Tendang" dan "Bola".

Jika hiponim dari Kick, adalah Koki, maka saya bisa menggabungkan ketiga kata tersebut ke dalam 1 cerita, misal: "Koki itu Tendang Bolasambil membawa Pisau dapur".

Mungkin Kick akan sukar diingat, tetapi ketika dihiponimkan dengan Koki, dan diberikan penekanan pada kalimat Koki, Tendang, dan Bola pada cerita di atas, maka akan didapatkan bahwa menghafal ketiga kata yang sulit dan urutannya, dapat dilakukan melalui asosiasinya yang digabungkan ke dalam cerita. Dengan demikian, ketika saya ingat bola, berarti saya ingat nomor urut 1, dan saya ingat bahwa Bola itu harus di Tendang, oleh Koki yang membawa pisau dapur. Koki = Kick, yang berarti Tendang, dengan nomor urutan 1.

Hmm.. Itu adalah salah satu contoh adalah salah satu dari beberapa trick yang dapat diterapkan melalui Metode Hanifida. Pada praktek riilnya, metode ini, jika dapat benar2 dimanfaatkan dengan maksimal, insya Allah akan memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam mempelajari hal2 yang sukar diingat dengan cara yang fun. ^_^

Terima kasih untuk ilmunya Pak Ustd Hanif, Ibu Ustadzah Ida dan Team. Semoga bermanfaat bagi kami kelak. Aamiin.

Mudik Lebaran 1439H 2018